SOSIAL MEDIA
“Aku tidak bangga akan hal itu, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menjadi wanita lain," ungkapnya kepada ku.
NJ teman sekolah ku. Di usianya yang 37 tahun dia mengalami perceraian yang menyakitkan. Dia ditinggalkan suami tanpa ada alasan yang jelas. Bahkan ditalak sepihak tanpa komunikasi yang sebelumnya. Sedikit pun tak terlintas di benaknya pernikahan akan berakhir seperti itu. Karena beberapa kali rumah tangganya didera ujian berat tidak berdampak sejauh itu. Hubungan rumah tangga jarak jauh dengan frekuensi bertemu yang tidak jelas tidak pernah menjadi masalah yang berarti.
Situasi itu sempat membawa NJ ke kehidupan yang tidak jelas. Hari-harinya dijalani sesuka dan senyamannya saja. Sampai anak semata wayangnya yang berusia 7 tahun jadi terabaikan. Berselancar di sosial media dan dunia nyata tanpa batasan dan rel yang jelas.
Sampai suatu saat dia mengenal seorang pria melalui sosial media. Pria itu RB, karyawan suatu perusahaan swasta. Komunikasi berjalan sebagaimana bebasnya obrolan di sosial media yang biasa dia geluti. Semuanya nyaman, bahagia, dan banyak bahan yang sudah dijadikan obrolan.
RB sangat bisa dalam membahasakan obrolan dan memberikan titik nyaman terhadap NJ. Hubungan itu terus berlanjut. Sampai akhirnya memberikan getaran istimewa di hatinya dan membuatnya tidak bisa lepas. Di sisi lain, RB juga memberikan respon yang sama dan memberikan perhatian dan kepedulian khusus terhadap NJ.
Tidak ada yang salah dengan apa yang mereka alami dan rasakan. Semua mengalir begitu saja. Namun, RB adalah pria beristri dan memiliki tiga orang anak. Walaupun tau apa yang dilakukan itu tidak benar. Namun hati nya seolah-olah berkata lain. Tidak ada lagi merasa asing diantara mereka. Semua wujud kepedulian dan perhatian semakin jelas dan nyata. NJ berlilit dalam perselingkuhan dengan pria beristri, hingga rela menjadi orang ketiga.
NJ dikritik teman-temannya yang sudah menikah karena menjadi wanita idaman lain. Namun, dia tak bisa berhenti. RB benar-benar memberinya kenyamanan. Dia benar-benar bisa mngisi kekosongan dan ruang hati NJ hingga memberikan kenyamanan. Rasa disayangi dan rasa dicintai membuat NJ tidak bisa keluar bahkan bergeser pun tidak dari hubungan terlarang itu.
"Terapisku mengatakan kepadaku untuk tidak begitu saja mempercayai perasaanku. Dia bilang kepadaku bahwa hanya karena aku merasakan sesuatu yang mendalam, bukan berarti itu baik untukku. Tapi aku sangat mencintainya," tutur NJ kepada ku.
Salahnya dimana? Apakah salah untuk mencintai seorang pria beristri? Sementara bahagia dan kenyamanan itu bisa dirasakan. Semua itu begitu nyata. Apakah hal tersebut merupakan perampasan kebahagiaan dan penzoliman?
Komentar
Posting Komentar